^Kembali Ke Awal

Kalau Bukan Sekarang Kapan Lagi, Kalau Bukan Kitorang Siapa Lagi

Distamben Agenda

Pengumuman

Aplikasi

Video Galery

 

Silahkan Login

Menteri ESDM Bersama Dirjen Ketenagalistrikan dan Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Meninjau Lokasi PLTMH Yang Berada Di Distrik Ayamaru Jaya Kabupaten Mayrat Provinsi Papua Barat Dalam Rangka Pencanagan Program Indonesia TerangGubernur Papua Barat Abraham O. Atururi (photo kiri) berjabat tangan dengan BP Regional President Asia Pacific Christina VerchereKepala Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Papua Barat dalam Acara Rapat Pembahasan KAK Transportasi LNG di Kantor Perwakilan Papua Barat di JakartaSekretaris Daerah Papua Barat Nataniel D. Mandacan Membuka Secara Resmi RAKORNIS Sektor ESDM Se-Papua BaratFoto bersama Sekda Papua Barat, Kadis ESDM Jawa Timur, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Se-Provinsi Papua Barat Serta Narasumber dari Kemendagri dan KESDM dalam Acara RAKORNIS Sektor ESDM Tahun 2016

Apa Sih Batubara Itu

Batubara - bahan bakar fosil - adalah sumber energi terpenting untuk pembangkitan listrik dan berfungsi sebagai bahan bakar pokok untuk produksi baja dan semen. Namun demikian, batubara juga memiliki karakter negatif yaitu disebut sebagai sumber energi yang paling banyak menimbulkan polusi akibat tingginya kandungan karbon. Sumber energi penting lain, seperti gas alam, memiliki tingkat polusi yang lebih sedikit namun lebih rentan terhadap fluktuasi harga di pasar dunia. Dengan demikian, semakin banyak industri di dunia yang mulai mengalihkan fokus energi mereka ke batubara.

Dengan tingkat produksi saat ini (dan apabila cadangan baru tidak ditemukan), cadangan batubara global diperkirakan habis sekitar 112 tahun ke depan. Cadangan batubara terbesar ditemukan di Amerika Serikat, Russia, Republik Rakyat Tiongkok (RRT), dan India.

Sepuluh Besar Produsen Batubara Tahun 2014¹ ²

 1. Cina

     1844.6 Mt

 2. Amerika Serikat

      507.8 Mt 

 3. Indonesia

      281.7 Mt 

 4. Australia

      280.8 Mt

 5. India

      243.5 Mt

 6. Russia

      170.9 Mt

 7. Afrika Selatan

      147.7 Mt

 8. Kolombia

       57.6 Mt

 9. Kazakhstan

       55.3 Mt

10. Polandia

       55.0 Mt

¹bahan bakar padat komersil sebagai contoh batubara bituminous coal, anthracite (batubara keras), batubara lignite and muda (sub-bituminous)
² setara juta ton minyak
Sumber: BP Statistical Review of World Energy 2015

Batubara di Indonesia

Produksi dan Ekspor Batubara Indonesia

Indonesia adalah salah satu produsen dan eksportir batubara terbesar di dunia. Sejak tahun 2005, ketika melampaui produksi Australia, Indonesia kemudian menjadi eksportir terdepan batubara thermal. Porsi signifikan dari batubara thermal yang diekspor terdiri dari jenis kualitas menengah (antara 5100 dan 6100 cal/gram) dan jenis kualitas rendah (di bawah 5100 cal/gram) yang sebagian besar permintaannya berasal dari Cina dan India. Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia, cadangan batubara Indonesia diperkirakan habis kira-kira dalam 83 tahun mendatang apabila tingkat produksi saat ini diteruskan. Berkaitan dengan cadangan batubara global, Indonesia saat ini menempati peringkat ke-10 dengan sekitar 3.1 persen dari total cadangan batubara global terbukti berdasarkan BP Statistical Review of World Energy. Sekitar 60 persen dari cadangan batubara total Indonesia terdiri dari batubara kualitas rendah yang lebih murah (sub-bituminous) yang memiliki kandungan kurang dari 6100 cal/gram.   

Sejumlah kantung cadangan batubara yang lebih kecil terdapat di pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua, namun demikian tiga daerah dengan cadangan batubara terbesar di Indonesia adalah:

1. Sumatra Selatan

2. Kalimantan Selatan

3. Kalimantan Timur

http://www.indonesia-investments.com/upload/images/Coal-Maps-Indonesia-Batubara-Indonesia-Investments.png

Industri batubara Indonesia terbagi dengan hanya sedikit produsen besar dan banyak pelaku skala kecil yang memiliki tambang batubara dan konsesi tambang batubara (terutama di Sumatra dan Kalimantan).

Sejak awal tahun 1990an, ketika sektor pertambangan batubara dibuka kembali untuk investasi luar negeri, Indonesia mengalami peningkatan produksi, ekspor dan penjualan batubara dalam negeri. Penggunaan batubara dalam negeri secara relatif masih rendah. Ekspor batubara Indonesia berkisar antara 70 sampai 80 persen dari total produksi batubara, sisanya dijual di pasar domestik.

Produksi, Ekspor, Konsumsi & Harga Batubara:

 

2007

2008

2009

2010

2011

2012

2013

2014

2015

Production
(in million tons)

 217

 240

 254

 275

 353

 412

 474

 458

 376

Export
(in million tons)

 163

 191

 198

 210

 287

 345

 402

 382

 296

Domestic
(in million tons)

  61

  49

  56

  65

  66

  67

  72

  76

  80

Price (HBA)
(in USD/ton)

  n.a

  n.a

 70.7

 91.7

118.4

 95.5

 82.9

 72.6

 60.1

Sources: Indonesian Coal Mining Association (APBI) & Ministry of Energy and Mineral Resources

Indonesian Government's Benchmark Thermal Coal Price (HBA):

Month

   2012

   2013

   2014

   2015

   2016

January

  109.29

   87.55

   81.90

   63.84

   53.20

February

  111.58

   88.35

   80.44

   62.92

   50.92

March

  112.87

   90.09

   77.01

   67.76

   51.62

April

  105.61

   88.56

   74.81

   64.48

 

May

  102.12

   85.33

   73.60

   61.08

 

June

   96.65

   84.87

   73.64

   59.59

 

July

   87.56

   81.69

   72.45

   59.16

 

August

   84.65

   76.70

   70.29

   59.14

 

September

   86.21

   76.89

   69.69

   58.21

 

October

   86.04

   76.61

   67.26

   57.39

 

November

   81.44

   78.13

   65.70

   54.43

 

December

   81.75

   80.31

   69.23

   53.51

 

in USD/ton
Source: Ministry of Energy and Mineral Resources

Apa yang Mendorong Peningkatan Produksi dan Ekspor Batubara di Indonesia?

 

Batubara adalah kekuatan dominan di dalam pembangkitan listrik. Paling sedikit 27 persen dari total output energi dunia dan lebih dari 39 persen dari seluruh listrik dihasilkan oleh pembangkit listrik bertenaga batubara karena kelimpahan jumlah batubara, proses ekstrasinya yang relatif mudah dan murah, dan persyaratan-persyaratan infrastruktur yang lebih murah dibandingkan dengan sumberdaya energi lainnya.

Indonesia memiliki cadangan batubara kualitas menengah dan rendah yang melimpah. Jenis batubara ini dijual dengan harga kompetitif di pasar internasional (ikut disebabkan karena upah tenaga kerja Indonesia yang rendah).

Indonesia memiliki posisi geografis strategis untuk pasar raksasa negara-negara berkembang yaitu RTT dan India. Permintaan untuk batubara kualitas rendah dari kedua negara ini telah naik tajam karena banyak pembangkit listrik bertenaga batubara baru yang telah dibangun untuk mensuplai kebutuhan listrik penduduknya yang besar.

Negara tujuan utama untuk ekspor batubara Indonesia adalah China, India, Jepang dan Korea. Batubara jelas penting untuk pendapatan negara karena komoditas ini berkontribusi untuk sekitar 85% dari pendapatan sektor pertambangan.

 

Prospek Masa Depan Sektor Pertambangan Batubara Indonesia

 

Boom komoditas pada era 2000-an menghasilkan keuntungan yang signifikan untuk perusahaan-perusahaan yang bergerak di dalam ekspor batubara. Kenaikan harga komoditas ini - sebagian besar - dipicu oleh pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang. Kendati begitu, situasi yang menguntungkan ini berubah pada saat terjadi krisis keuangan global pada tahun 2008 ketika harga-harga komoditas menurun begitu cepat. Indonesia terkena pengaruh faktor-faktor eksternal ini karena ekspor komoditas (terutama untuk batubara dan minyak sawit) berkontribusi untuk sekitar 50% dari total ekspor Indonesia, sehingga membatasi pertumbuhan PDB tahun 2009 sampai 4,6% (yang boleh dikatakan masih cukup baik, terutama didukung oleh konsumsi domestik). Pada semester 2 tahun 2009 sampai awal tahun 2011, harga batubara global mengalami rebound tajam. Kendati begitun, penurunan aktivitas ekonomi global telah menurunkan permintaan batubara, sehingga menyebabkan penurunan harga batubara yang dimulai dari awal tahun 2011.

Selain dari lambatnya pertumbuhan ekonomi global (dan penurunan besar-besaran perekonomian RRT), penurunan permintaan komoditas, ada pula faktor lain yang berperan. Pada era boom komoditi 2000-an yang menguntungkan, banyak perusahaan pertambangan baru yang didirikan di Indonesia sementara perusahaan-perusahaan tambang yang sudah ada meningkatkan investasi untuk memperluas kapasitas produksi mereka. Hal ini menyebabkan kelebihan suplai yang sangat besar dan diperburuk oleh antusiasme para penambang batubara di tahun 2010-2013 untuk memproduksi dan menjual batubara sebanyak mungkin - karena rendahnya harga batubara global - dalam rangka menghasilkan pendapatan dan keuntungan.

Walaupun kesadaran global telah dibangun untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, perkembangan sumber energi terbarukan tidak menujukan indikasi bahwa ketergantungan pada bahan bakar fosil (terutama batubara) akan menurun secara signifikan dalam waktu dekat, sehingga batubara terus menjadi sumber energi vital. Kendati begitu, teknologi batubara bersih dalam pertambangan batubara akan sangat diperlukan di masa mendatang (sebagian karena faktor komersil) dan Indonesia diharapkan akan terlibat secara aktif di dalam proses tersebut sebagai salah satu pelaku utama di sektor pertambangan batubara. Teknologi batubara bersih ini difokuskan untuk mengurangi emisi yang dihasilkan oleh pembangkit listrik bertenaga batubara namun teknologi ini belum berkembang cukup baik. Kegiatan-kegiatan hulu yang terkait dengan pertambangan batubara, seperti pengembangan waduk-waduk coalbed methane (CBM) yang potensinya banyak dimiliki oleh Indonesia, telah mulai mendapatkan perhatian belakangan ini.

Kebijakan Pemerintah Indonesia akan mempengaruhi industri pertambangan batubara nasional. Untuk memperoleh suplai dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral Indonesia meminta para produsen batubara untuk mencadangkan jumlah produksi tertentu untuk konsumsi dalam negeri. Selain itu, Pemerintah dapat menggunakan pajak ekspor untuk mengurangi ekspor batubara. Pemerintah ingin meningkatkan konsumsi domestik batubara sehingga batubara mensuplai sekitar 30% dari pencampuran energi nasional pada tahun 2025:

 

 Energy Mix
      2011

 Energy Mix
      2025


Minyak Bumi

       50%

       23%

Batubara

       24%

       30%

Gas Alam

       20%

       20%

Energi Terbarukan

        6%

       26%

Sumber: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)

Perkembangan terkini lainnya adalah bahwa pemerintah Indonesia bermaksud untuk membatasi pengiriman seluruh bahan mentah (kecuali batubara), dan mewajibkan sektor pertambangan untuk menambahkan nilai pada produk sebelum pelaksanaan ekspor. Pada awalnya, rencana ini dibuat untuk melarang ekspor bahan mentah dari tahun 2014 dan seterusnya. Baru-baru ini, Pemerintah menyatakan akan bersikap lebih fleksibel untuk pelarangan ini dan mengungkapkan bahwa sebagian ekspor dapat dilanjutkan dengan syarat-syarat tertentu. Sektor batubara tidak akan terpengaruh oleh pelarangan ini sesuai dengan pernyataan pemerintah pada tahun 2012, sehingga batubara dapat terus diekspor tanpa diolah terlebih dahulu.

 

Berita Nasional

Galery Foto

Penilaian Pengunjung

Bagaimana pendapat anda tentang website kami
  • Votes: (0%)
  • Votes: (0%)
  • Votes: (0%)
  • Votes: (0%)
  • Votes: (0%)
Total Votes:
First Vote:
Last Vote:
 
Powered by Sexy Polling
 

Kunjungi Juga

 

 

 

Statistik Pengunjung

Hari ini209
Kemarin297
Minggu ini1033
Bulan ini6588
Total58963

IP Pengunjung: 54.204.252.37 Info Pengunjung: Unknown - Unknown Kamis, 30 Maret 2017

Sedang Online

Guests : 58 guests online Members : No members online
Copyright © 2014-2016. distambenpapuabaratprov  Rights Reserved.